Tuesday, September 27, 2016

Jangan Makan Buah Biar Jantungan

Gaya hidup yang tidak sehat, nyaris selalu mengkambinghitamkan arus deras modernisasi. Kekinian dianggap sukses membuat orang memalingkan mata akan arti kesehatan. Salah satu penandanya adalah semakin mudahnya menemukan ragam makanan siap saji dan serba instan lengkap dengan gaya hidup kekinian. Semakin mudah ditemukan dan menjadi pilihan agar selalu terlihat mengikuti aliran jaman. 

Padahal banyak ahli sudah cerewet menyatakan, bahwa makanan siap saji sebaiknya lebih dihindari, karena dapat memperbesar risiko terkena berbagai macam penyakit yang berbahaya, salah satunya adalah penyumbatan saluran darah yang dapat berujung kepada serangan jantung. Selain berkalori tinggi, makanan siap saji umumnya mengandung kadar garam yang tinggi, dan berpotensi menyebabkan hipertensi. Buntutnya, kolesterol jahat terpicu untuk tumbuh sehingga mencetuskan penyakit jantung.

Penyakit kardiovaskuler tersebut, menurut World Health Federation, adalah biang keladi dari sekira 80 persen kematian dini. Ketika Saat dirinya menghadiri acara World Heart Federation Conference di Meksiko, disampaikan bahwa pentingnya mengurangi karbohidrat sebagai alasan kesehatan, termasuk melindungi kesehatan jantung.

"Karena itu, kurangilah karbohidrat. Tetapi jangan sampai kurang gizi. Protein harus cukup. Buah dan sayur harus cukup, juga susu," tukas Syahlina Zuhal, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI).

"Kita harus makan dengan gizi yang cukup. Terutama buah. Di Inggris, masyarakat sudah dibiasakan mengonsumsi buah 5 kali dalam sehari. Lalu, karbohidrat dikurangi sekali. Misalnya, yang biasanya satu piring besar, sekarang dikurangi jadi setengah piring. Makannya cukup siang," lanjut Syahlina Zuhal, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI), usai konfrensi pers Yayasan Jantung Indonesia di Patio Trattoria & Pizzeria, Melawai, Jakarta Selata, Rabu (9/14/2016).

Bicara buah-buahan, Indonesia,adalah surga tidak kurang dari 329 jenis buah-buahan, baik yang merupakan jenis asli Indonesia maupun introduksi, dapat ditemukan di seluruh penjuru nusantara. Buah-buahan asli Indonesia terdapat 266 jenis yang sebagian besar tumbuh liar di hutan dan hanya sebagian kecil yang telah dibudidayakan. Dari 266 jenis buah-buahan yang ada, 76% di antaranya termasuk jenis pohon. Dari 62 jenis tanaman buah yang telah dibudidayakan, 18 jenis di antaranya merupakan endemik, dan 4 jenis termasuk langka.

Buah dan sayur, menurut uraian para pakar, memiliki senyawa fitonutrien yang telah terbukti bermanfaat untuk menyehatkan jantung dan membantunya bekerja dengan kuat. Walaupun sejatinya senyawa ini merupakan mekanisme perlindungan pribadi si tumbuhan buah dari kuman, jamur, dan hama pengganggu, namun ketika manusia mengkonsumsi buah, senyawa tersebut dapat membantu tubuh bekerja dengan baik.

Lalu, jikalau kita harus mengkonsumsi buah sebanyak lima kali sehari, mestinya kita tidak perlu harus bingung. Dari buah-buahan asli Indonesia yang tercatat sebanyak 266 jenis saja, selama lebih dari satu setengah bulan kita dapat menikmati beragam jenis buah asli Nusantara. Kekayaan hayati buah-buahan Nusantara itu, mestinya juga ikut dinikmati oleh warga Indonesia. Apalagi jika mengingat manfaatnya yang luar biasa bagi jantung.  

Namun sayangnya, kita sudah terlalu terbiasa untuk tidak mengudap buah. Menurut data Kementerian Pertanian RI tahun 2008, orang Indonesia hanya makan buah 32,67 kg/kapita/tahun. Tahun 2013 silam, Menteri Pertanian kala itu, Suswono memperbaiki angka rata-rata konsumsi buah-buahan masyarakat Indonesia, dengan menyebut 40 kilogram (kg) per kapita per tahun. Jika dibandingkan dengan warga dunia lain, misalnya orang Eropa yang mengonsumsi buah lebih dari 130 kg/kapita/tahun, Indonesia sangat jauh tertinggal. Sementara untuk pemenuhan gizi yang baik menurut standar Badan Pangan Dunia (Food and Agricultural Organization/FAO) konsumsi buah-buahan adalah 65,75 kg per kapita per tahun.

"Rendahnya konsumsi buah-buahan masyarakat Indonesia karena masih rendahnya tingkat pendapatan per kapita masyarakat Indonesia," ungkap Suswono dalam keterangan tertulisnya kala itu, Senin (20/5/2013).

Padahal, sebagai negeri yang menjadi rumah bagi lebih kurang 266 jenis buah lokal, fitonutien dalam buah itu semestinya tidak harus didapatkan dengan biaya yang tinggi. Kita bisa sebut, apel nusantara, yang pastinya lekat dengan kota Malang, yang notabene produsen buah apel ternama di Nusantara. Menurut satu penelitian, mengonsumsi satu hingga dua apel per hari kemungkinan dapat mengurangi risiko penyakit jantung. Penelitian tersebut menemukan bahwa apel efektif mengurangi kolesterol jahat dalam tubuh dan membantu mengatur gula darah. Hal ini karena selain mengandung fitonutrien, apel juga mengandung senyawa lain yang baik untuk jantung, yaitu quercetin dan pektin.
Quercetin adalah senyawa yang mampu mencegah peradangan dan asma, serta diduga mampu mencegah kanker. Sedangkan pektin adalah serat larut yang membantu menurunkan tingkat gula darah dan tekanan darah. Walau masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kepastian dampak apel pada jantung, tidak ada salahnya mengonsumsi buah ini.

Jeruk asli Nusantara mempunyai banyak ragam jenis buah tersebut. Sebut saja, Jeruk Keprok Batu 55 (Jawa Timur), Jeruk Keprok SoE (NTT), Jeruk Keprok Brastepu (Sumatera Utara), dan Jeruk Keprok Gayo (Aceh). Buah ini mengandung flavonoid dan karotenoid yang melindungi terhadap stres oksidatif dan penurunan peradangan dalam tubuh, sehingga mencegah penyakit kardiovaskular. Sebuah studi 2011 di “Journal of Epidemiology” menemukan bahwa sering asupan buah jeruk dikaitkan dengan insiden lebih rendah dari penyakit jantung.

Kita belum menyebutkan deretan buah nusantara, misalkan si ratu buah manggis, kedondong, salak, duku, jambu air. Deretan buah yang sudah semakin langka seperti buah rambai, buah manau, buah lahung, buah mundar, buah gitaan, buah bangkinang juga sejatinya menjadi deretan buah nusantara yang memiliki kegunaan memperkuat kinerja jantung.     


Lalu, dengan beragamnya jenis buah nusantara, masihkah kita akan bicara buah itu mahal dan tetap menghindari makan buah? Kalau itu yang anda pilih, selamat, anda sudah bersiap untuk jantungan.  

(Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog bertemakan “Gaya Hidup Sehat untuk Jantung Sehat” yang diselenggarakan Yayasan Jantung Indonesia bekerjasama dengan Indonesiana.)

Thursday, January 26, 2012

Prodesic (probiotic degradable siclyc) perkecil patogen di air


Bermanfaat bagi kolam dan tambak

Satu dari beberapa kendala penting yang ada, saat melakukan budidaya di perairan tawar, adalah kondisi kesehatan air. Ini menjadi perhatian utama para budidayawan, karena sangat menentukan kehidupan ikan dan tumbuhan air.


Kandungan air yang segar dan sehat tentu melahirkan ikan dan tumbuhan air yang sehat pula. Sebaliknya, air yang tercemar memeperbesar resiko patogen atau penyakit.
Salah satu cara yang tengah dikembangkan para peneliti biokimia perairan adalah pemanfaatan probiotik unggulan. Salah satunya probiotic degradable siclyc (prodesic). Menurut salah seorang praktisi manajemen perairan, Khairul Chaniago, penggunaan prodesic telah dilakukan di kolam lele (Clarias batrachus) di Sentul, Bogor.


"Prodesic ini telah diaplikasikan di kolam lele Sangkuriang di Sentul. Kebetulan sudah berhasil panen. Kolam itu selalu kekurangan sumber air, sehingga peternak lele tak pernah menguras airnya, hanya menambah dan menambah saja, dan ternyata sukses sampai panen," ujarnya. "Tapi data FCR dan pola pertumbuhannya, serta tonase biomassnya menyusul."


Probiotik tersebut menurutnya juga telah diterapkan di sebuah perusahaan besar di Cikarang, untuk kepentingan menekan pencemaran air.


Selain Cikarang penggunaan prodesic tersebut juga diterapkan di tempat budidaya udang di Semarang. "Semoga membantu budidaya perikanan," harap Khairul. (ang)

Indonesia jadi kuburan bagi hiu


Kebutuhan perut VS konservasi, hasilkan kecaman

Kontradiksi antara pemenuhan kebutuhan perut dan konservasi sumberdaya alam sudah menjadi isu abadi, yang kerap menjadi bahan perdebatan tiada henti. Contohnya, pemanfaatan sumberdaya hiu atau cucut. Sebagai penghasil dan eksportir produk dari keluarga besar hiu, Indonesia kerap menerima kecaman dari beragam organisasi international dan beberapa negara maju.

Terlebih sebagai anggota Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Indonesia harus mendukung Resolusi IOTC 10/12 tentang The Conservation of The Thresher Shark (Family Alopiidae). Resolusi ini melarang kegiatan penangkapan, penyimpanan di atas kapal, pemindahaan hasil tangkapan antar kapal, pendaratan hingga perdagangan family hiu yang dikenal di Indonesia sebagai family dari hiu monyet, hiu tikus, lancuran.

Indonesia juga sering dikecam akibat praktik penangkapan hiu atau cucut yang tidak berperike-hiu-an. Beragam bukti , baik dalam bentuk foto maupun video, menunjukkan ‘keganasan’ nelayan Indonesia terhadap hiu hasil tangkapan mereka. Para fin-hunter tidak mau memenuhi palka mereka dengan tubuh ikan hiu akibat harga dagingnya yang tak sepadan, sehingga mereka hanya ‘mengambil’ sirip hiu tersebut dan melepaskan kembali tubuhnya ke laut. Tak jarang kegiatan ini dilakukan saat ikan tersebut masih dalam keadaan hidup.


Eksploitasi hiu kini ancam keberadaannya
Secara umum, sumberdaya hiu menyebar merata di seluruh perairan Indonesia, dan didaratkan di berbagai pelabuhan perikanan yang tersebar. Sejatinya, hiu (cucut) bukanlah ikan target, melainkan hasil tangkapan sampingan (by-catch) dari beberapa jenis alat tangkap seperti rawai tuna (tuna longline), rawai hanyut, rawai dasar, sampai dengan alat tangkap statis seperti jaring insang bermata jaring besar (oceanic gillnet).

Meski begitu, seiring dengan besarnya permintaan dan peningkatan nilai rupiah untuk sirip dan minyak hiu, di beberapa tempat ikan ini menjadi target utama. Contohnya adalah armada rawai hanyut dan rawai dasar yang berpangkalan di PPI Tanjung Luar, Nusa Tenggara Barat. Kapal-kapal kayu berukuran 5 – 30 GT ini memang menjadikan hiu sebagai target tangkapan mereka. Durasi satu trip operasi penangkapan dilakukan berkisar antara 7 – 30 hari per trip.


Meski kegiatan penangkapan dilakukan sepanjang tahun, puncak hasil tangkapan (peak season) terjadi sepanjang April sampai Oktober. Sirip (fin) tetap menjadi andalan dalam penjualan hasil produk dari hiu, meski sejatinya seluruh bagian hiu dapat dimanfaatkan seperti daging dan minyak yang berasal dari hati karnivor laut terbuas itu.
Harga per kg sirip kering di level nelayan berkisar antara 67 - 167 US$ per kilogram, tergantung ukuran dan kualitasnya. Dengan jumlah armada yang cukup banyak, tak pelak lagi perikanan hiu merupakan salah satu tulang punggung perekonomian ribuan manusia yang terlibat di dalamnya. Mulai dari ABK kapal hingga bakul dan pekerja pengolahan sirip ikan hiu.


Memang, tidak semua jenis hiu masuk ke dalam spesies ikan yang terancam (endangered species), namun demikian, tidaklah mudah untuk menseleksi jenis-jenis hiu yang tertangkap. Diperlukan suatu sistem pendataan akurat, agar jenis ikan yang hiu yang dikonservasikan bukanlah jenis hiu yang memang masih berlimpah dan dibutuhkan para nelayan. (FI)

Ikan pengobat stres: Garra rufa


Makan kulit bangkai


Yang sering melakukan fish spa dan terapi ikan tentu tak asing lagi dengan Garra rufa. Ikan ini hidup di perairan hangat, tidak memiliki gigi, dan panjang maksimal hanya 7 cm. Dia berasal dari Kangal, Turki.


Foto: Ist.
Karena hidupnya di air dengan suhu mencapai 40 derajat Celcius, ikan ini kekurangan sumber makanan plankton. Untuk itu makanannya adalah kulit-kulit kering hewan lainnya yang ada di air tempatnya hidup, seperti kulit bangkai kumbang, lalat, dan hewan lainnya.


Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan ini akhirnya dimanfaatkan untuk pengobatan. Terapi ikan yang sering kita jumpai belakangan ini, memanfaatkan Garra rufa untuk memakan kulit-kulit kering manusia. Sel-sel kulit yang sudah mati dimakan oleh mereka, sehingga setelah terapi, kulit menjadi bersih.


Selanjutnya, pertumbuhan kulit baru menjadi lebih cepat karena kulit mati di badan sudah tanggal, dipatuk oleh ikan-ikan tersebut. Kemudian kulit pun menjadi halus.


Manfaat lainnya selain menghilangkan kulit mati, karena berendam bersama Garra rufa ini harus di air hangat, orang akan menjadi lebih rileks. Pikiran akan lebih tenang dan sistem peredaran darah dan syaraf semakin lancar. (ang)